-
Gemini is compiling a summary of the article...
Pernah berniat membuka media sosial hanya selama lima menit, tetapi tanpa sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam? Awalnya mungkin hanya ingin melihat kabar terbaru. Namun, satu berita buruk membawa Anda ke berita lainnya, lalu berlanjut ke video, komentar, dan berbagai unggahan yang semakin membuat pikiran gelisah.
Kebiasaan terus-menerus mencari dan mengonsumsi informasi negatif seperti ini dikenal sebagai doomscrolling. Fenomena tersebut semakin mudah terjadi karena media sosial dirancang untuk menghadirkan aliran konten tanpa akhir. Selama masih menggulir layar, selalu ada informasi baru yang dapat dikonsumsi.
Masalahnya, terlalu sering terpapar berita buruk bukan hanya menghabiskan waktu. Jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini dapat memengaruhi suasana hati, kualitas tidur, konsentrasi, hingga cara seseorang memandang lingkungan di sekitarnya.
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah kebiasaan menggulir media sosial atau platform digital secara terus-menerus untuk membaca atau melihat berita negatif, mengkhawatirkan, atau membuat cemas. Istilah ini berasal dari gabungan kata “doom” yang merujuk pada malapetaka atau sesuatu yang buruk dan “scrolling”, yaitu aktivitas menggulir layar.
Doomscrolling tidak selalu berarti seseorang sengaja mencari hal-hal buruk. Dalam banyak situasi, seseorang mungkin awalnya hanya ingin mengetahui perkembangan suatu peristiwa. Namun, rasa penasaran membuatnya terus mencari informasi terbaru meskipun informasi yang dikonsumsi justru meningkatkan kecemasan.
Algoritma media sosial juga dapat membuat siklus tersebut semakin panjang. Setelah seseorang berinteraksi dengan jenis konten tertentu, platform dapat kembali menampilkan konten serupa. Akibatnya, pengguna bisa berada dalam lingkungan informasi yang didominasi topik negatif.
Mengapa Kita Sulit Berhenti Scroll?
Salah satu alasan doomscrolling sulit dihentikan adalah adanya dorongan untuk terus mencari informasi baru. Ketika terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, mengetahui perkembangan terbaru dapat memberikan perasaan bahwa kita sedang berusaha memahami atau mengendalikan situasi.
Namun, informasi baru tidak selalu membuat seseorang merasa lebih tenang. Justru sebaliknya, semakin banyak konten negatif yang dikonsumsi, semakin banyak pula hal yang dapat dipikirkan.
Selain itu, desain platform digital turut berperan. Fitur seperti infinite scrolling memungkinkan pengguna berpindah dari satu konten ke konten berikutnya tanpa batas yang jelas. Tidak ada titik alami yang memberi tanda bahwa aktivitas tersebut sudah selesai.
Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang sedang bosan, stres, atau ingin mengalihkan perhatian. Membuka ponsel menjadi respons otomatis. Tanpa disadari, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru diisi dengan berbagai informasi yang memicu kecemasan.
Apa Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental?
Doomscrolling tidak otomatis menyebabkan gangguan kesehatan mental pada setiap orang. Namun, kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara berlebihan dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
1. Meningkatkan rasa cemas
Paparan terus-menerus terhadap berita buruk dapat membuat seseorang merasa dunia di sekitarnya lebih berbahaya daripada sebelumnya. Ketika pikiran terus menerima informasi mengenai konflik, bencana, kriminalitas, atau berbagai masalah lainnya, tubuh dan pikiran dapat tetap berada dalam kondisi waspada.
2. Membuat pikiran lebih sulit tenang
Doomscrolling dapat membuat otak terus memproses informasi baru. Bahkan setelah ponsel diletakkan, seseorang mungkin masih memikirkan berita yang baru saja dibaca.
Kondisi ini membuat waktu istirahat menjadi kurang berkualitas karena pikiran belum benar-benar beralih dari berbagai informasi yang diterima.
3. Mengganggu kualitas tidur
Kebiasaan scrolling sebelum tidur dapat membuat waktu tidur semakin mundur. Belum lagi jika konten yang dikonsumsi memicu kecemasan atau membuat pikiran terus aktif.
Alih-alih menjadi aktivitas relaksasi sebelum tidur, media sosial justru dapat membuat seseorang semakin sulit melepaskan perhatian dari layar.
4. Menurunkan konsentrasi
Terlalu sering berpindah dari satu konten ke konten lainnya dapat membuat perhatian terbiasa dengan rangsangan yang cepat dan terus berubah. Dalam aktivitas sehari-hari, hal tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah terdistraksi ketika harus mengerjakan sesuatu yang membutuhkan fokus lebih lama.
5. Membentuk pandangan yang semakin negatif
Ketika sebagian besar waktu di media sosial diisi dengan berita buruk, seseorang dapat merasa seolah-olah tidak ada hal positif yang terjadi. Padahal, apa yang muncul di linimasa tidak selalu menggambarkan keseluruhan kondisi dunia.
Media sosial pada dasarnya merupakan hasil seleksi algoritma, interaksi pengguna, dan pola distribusi informasi. Karena itu, linimasa bukan gambaran lengkap mengenai realitas.
Bagaimana Cara Menghentikan Doomscrolling?
Mengurangi doomscrolling tidak selalu berarti harus menghapus seluruh media sosial. Langkah yang lebih realistis adalah membangun batas penggunaan yang sehat.
Pertama, tentukan waktu khusus untuk membaca berita. Dengan begitu, seseorang tidak perlu memeriksa perkembangan terbaru setiap beberapa menit.
Kedua, matikan notifikasi yang tidak penting. Notifikasi dapat menjadi pemicu seseorang membuka aplikasi secara spontan meskipun sebelumnya tidak berniat menggunakannya.
Ketiga, perhatikan kondisi diri ketika sedang scrolling. Tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah saya benar-benar membutuhkan informasi ini, atau hanya sedang mencari sesuatu untuk terus dilihat?
Keempat, berhenti ketika mulai muncul tanda-tanda seperti merasa semakin cemas, sulit berkonsentrasi, atau terus membaca berita meskipun sebenarnya sudah merasa lelah.
Terakhir, isi waktu luang dengan aktivitas yang tidak melibatkan layar. Berjalan kaki, berbicara dengan orang lain, membaca buku, berolahraga, atau sekadar beristirahat dapat membantu memberikan jeda dari arus informasi digital. Bahkan ketika seseorang sedang mencari informasi praktis secara online, misalnya kebutuhan operasional seperti Genset Surabaya, usahakan tetap fokus pada informasi yang memang dibutuhkan, bukan berpindah tanpa tujuan ke konten lain.
Kapan Doomscrolling Perlu Diperhatikan Lebih Serius?
Doomscrolling patut menjadi perhatian ketika kebiasaan tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Misalnya, waktu tidur terus berkurang, pekerjaan atau aktivitas belajar terganggu, hubungan sosial terabaikan, atau rasa cemas semakin sulit dikendalikan.
Jika kondisi tersebut berlangsung dan terasa berat, berbicara dengan tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat. Bantuan profesional dapat membantu seseorang memahami pola perilakunya sekaligus mencari strategi yang sesuai untuk mengelola kecemasan atau tekanan yang dialami.
Kesimpulan
Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita atau konten negatif melalui media digital. Kebiasaan ini dapat membuat waktu berlalu tanpa disadari dan berpotensi memengaruhi kecemasan, kualitas tidur, konsentrasi, serta suasana hati.
Media sosial bukan sesuatu yang harus sepenuhnya dihindari. Yang lebih penting adalah menyadari kapan penggunaan media sosial mulai berubah dari kebutuhan informasi menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan.
Jadi, jika awalnya hanya ingin “scroll sebentar” tetapi akhirnya terus mencari berita buruk selama berjam-jam, mungkin sudah waktunya meletakkan ponsel sejenak. Tidak semua informasi harus diketahui saat itu juga. Terkadang, memberikan jeda kepada pikiran justru menjadi bentuk menjaga kesehatan mental.