Fenomena Cuaca Hingga Kenaikan Biaya Produksi Dinilai Menjadi Pemicu Tekanan Harga di Tingkat Konsumen
Perum Bulog memberikan penjelasan resmi mengenai tren kenaikan harga beras yang masih berlangsung hingga periode Oktober 2026. BUMN pangan tersebut mengungkapkan bahwa lonjakan harga di pasar tidak terlepas dari dinamika pasokan serta tantangan produksi di tingkat petani.
Direksi Bulog menjelaskan bahwa perubahan cuaca ekstrim yang memengaruhi siklus tanam dan panen menjadi salah satu faktor utama terbatasnya pasokan gabah kering giling (GKG). Kondisi ini secara otomatis mendongkrak biaya akuisisi gabah di tingkat penggilingan.
Selain faktor iklim, kenaikan biaya sarana produksi pertanian (saprodi) seperti pupuk dan logistik turut memberikan tekanan pada pembentukan harga beras di tingkat grosir hingga eceran.
"Kenaikan harga beras di pasaran dipengaruhi oleh pasokan gabah yang berkurang akibat pergeseran musim panen serta peningkatan biaya produksi di tingkat petani," ungkap perwakilan Perum Bulog.
Intervensi Pasar Lewat Operasi Pasar dan Distribusi SPHP
Menyikapi fluktuasi harga tersebut, Perum Bulog terus menggencorkan intervensi pasar melalui penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke pasar-pasar tradisional dan ritel modern.
Bulog memastikan ketersediaan Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam kondisi aman untuk menjaga stabilitas harga dan memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun.
Sumber rujukan: FIN.co.id / Perum Bulog
