Di dunia kerja modern, istilah hustle culture dan quiet quitting semakin sering dibicarakan. Keduanya menggambarkan cara yang berbeda dalam memandang pekerjaan, produktivitas, dan kehidupan di luar kantor.
Hustle culture adalah pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus bekerja keras, mengejar target, dan mengutamakan kesuksesan karier. Sementara itu, quiet quitting merujuk pada sikap bekerja sesuai tanggung jawab dan batas yang telah ditentukan, tanpa merasa harus terus melakukan pekerjaan di luar peran.
Lalu, apa perbedaan hustle culture dan quiet quitting? Mana yang lebih sehat bagi kehidupan kerja?
Apa Itu Hustle Culture?
Hustle culture adalah budaya yang menganggap kerja keras, produktivitas tinggi, dan kesibukan sebagai bagian penting dari kesuksesan. Dalam budaya ini, seseorang dapat merasa perlu bekerja lebih lama, mengambil banyak tanggung jawab, atau terus mengejar pencapaian agar dianggap berhasil.
Hustle culture tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Semangat untuk berkembang, mencapai target, dan membangun karier tentu dapat menjadi motivasi positif. Namun, masalah dapat muncul ketika bekerja keras dianggap sebagai kewajiban yang tidak memiliki batas.
Contohnya, seseorang mungkin merasa bersalah ketika mengambil cuti, tetap mengecek email setelah jam kerja, atau menganggap waktu istirahat sebagai sesuatu yang tidak produktif.
Jika berlangsung terus-menerus, pola tersebut dapat membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.
Apa Itu Quiet Quitting?
Berbeda dengan namanya, quiet quitting bukan berarti benar-benar berhenti dari pekerjaan. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang hanya melakukan tugas sesuai tanggung jawab pekerjaannya dan tidak merasa perlu memberikan usaha tambahan di luar kesepakatan.
Misalnya, karyawan tetap menyelesaikan pekerjaan dengan baik, memenuhi target, dan mengikuti jam kerja yang berlaku. Namun, ia tidak lagi merasa harus selalu lembur, membalas pesan pekerjaan di luar jam kerja, atau mengambil tugas tambahan tanpa alasan yang jelas.
Karena itu, quiet quitting juga sering dikaitkan dengan konsep work-life balance dan penetapan batas profesional.
Namun, penerapannya tetap perlu diperhatikan. Jika seseorang hanya melakukan pekerjaan secara minimal dan mengabaikan tanggung jawab utamanya, kondisi tersebut tentu berbeda dari sekadar menetapkan batas kerja yang sehat.
Hustle Culture vs. Quiet Quitting: Apa Perbedaannya?
Perbedaan utama keduanya terletak pada cara seseorang memandang pekerjaan dan batas antara kehidupan profesional dengan kehidupan pribadi.
Meski terlihat bertolak belakang, keduanya sebenarnya berada dalam spektrum cara seseorang mengelola pekerjaan. Seseorang juga tidak harus sepenuhnya menerapkan salah satunya.
Mana yang Lebih Sehat?
Tidak ada satu pendekatan yang otomatis paling sehat untuk semua orang. Yang lebih penting adalah apakah pola kerja tersebut memungkinkan seseorang bekerja secara produktif tanpa mengorbankan kesehatan, kehidupan pribadi, dan kebutuhan untuk beristirahat.
Hustle culture dapat memberikan dorongan bagi orang yang sedang mengejar target tertentu, membangun bisnis, atau ingin mengembangkan karier dengan cepat. Namun, penting untuk memastikan bahwa ambisi tersebut tidak berubah menjadi tekanan untuk selalu bekerja.
Di sisi lain, quiet quitting dapat membantu seseorang menetapkan batas yang lebih jelas. Akan tetapi, batas tersebut sebaiknya tetap disertai rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan.
Dengan kata lain, pendekatan yang lebih seimbang berada di antara dua ekstrem: tetap memiliki ambisi tanpa menjadikan pekerjaan sebagai seluruh identitas hidup, serta mampu menjaga batas tanpa mengabaikan tanggung jawab profesional.
Mengapa Work-Life Balance Penting?
Work-life balance bukan berarti membagi waktu secara persis antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Konsep ini lebih berkaitan dengan kemampuan mengelola pekerjaan sekaligus memiliki waktu untuk kebutuhan lain, seperti keluarga, kesehatan, hobi, dan kehidupan sosial.
Bagi sebagian orang, keberhasilan karier memang penting karena berkaitan dengan tujuan jangka panjang, termasuk membangun family legacy. Namun, pencapaian tersebut tidak harus selalu diukur dari seberapa lama seseorang bekerja.
Produktivitas yang berkelanjutan justru membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi. Batas kerja yang jelas juga dapat membantu seseorang lebih fokus ketika memang sedang bekerja.
Bagaimana Menemukan Keseimbangan?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk menghindari dampak negatif hustle culture maupun quiet quitting.
Pertama, tentukan prioritas kerja. Tidak semua tugas memiliki tingkat urgensi yang sama. Fokus pada pekerjaan yang memberikan dampak terbesar.
Kedua, tetapkan batas waktu kerja. Jika memungkinkan, hindari kebiasaan terus memeriksa pesan pekerjaan setelah jam kerja selesai.
Ketiga, komunikasikan ekspektasi. Diskusikan target, beban kerja, dan tanggung jawab dengan atasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Keempat, evaluasi energi dan produktivitas. Bekerja lebih lama tidak selalu berarti menghasilkan lebih banyak. Perhatikan kualitas hasil pekerjaan, bukan hanya jumlah jam yang dihabiskan.
Kelima, jangan menganggap istirahat sebagai kemunduran. Waktu istirahat merupakan bagian penting dari kemampuan untuk bekerja secara konsisten dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Hustle culture dan quiet quitting merupakan dua pendekatan berbeda dalam menjalani kehidupan kerja. Hustle culture menekankan kerja keras dan pencapaian, sedangkan quiet quitting lebih menekankan batas tanggung jawab dan work-life balance.
Lalu, mana yang lebih sehat? Jawabannya bergantung pada kondisi dan kebutuhan setiap individu. Yang perlu dihindari adalah bekerja tanpa batas hingga mengorbankan kehidupan pribadi, maupun menggunakan konsep batas kerja sebagai alasan untuk mengabaikan tanggung jawab.
Pada akhirnya, tujuan dunia kerja bukan sekadar bekerja sebanyak mungkin, tetapi menemukan cara untuk tetap produktif, berkembang, dan memiliki kehidupan yang seimbang.