Zaman jadi serba digital. Kita seolah dituntut untuk selalu tahu apa yang sedang terjadi. Notifikasi media sosial, tren terbaru, ajakan nongkrong, hingga berbagai aktivitas yang dibagikan orang lain membuat kita mudah merasa tertinggal. Namun, apakah kita benar-benar harus mengikuti semuanya?
Di sinilah konsep JOMO (Joy of Missing Out) menjadi menarik. JOMO adalah sikap menikmati keputusan untuk tidak mengikuti semua hal yang sedang dilakukan orang lain. Alih-alih merasa cemas karena tertinggal, seseorang justru merasa nyaman dengan pilihannya sendiri.
Apa Itu JOMO?
JOMO adalah singkatan dari Joy of Missing Out, yang secara sederhana berarti kebahagiaan karena tidak harus ikut dalam setiap aktivitas, tren, atau percakapan.
JOMO bukan berarti seseorang harus menjauh dari lingkungan sosial atau berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Konsep ini lebih berkaitan dengan kemampuan menentukan apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri.
Misalnya, ketika teman-teman sedang pergi ke sebuah acara, seseorang dengan pola pikir JOMO tidak merasa wajib datang hanya karena takut dianggap ketinggalan. Ia dapat memilih tetap di rumah untuk beristirahat, membaca buku, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau melakukan hobi.
Dengan kata lain, JOMO mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diikuti dan tidak semua momen harus dibagikan kepada orang lain.
Mengapa JOMO Semakin Relevan di Era Digital?
Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat hanya dalam hitungan detik. Kita dapat melihat teman berlibur, menghadiri konser, mencoba restoran baru, mengikuti tren, atau mencapai pencapaian tertentu.
Paparan tersebut terkadang membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Kondisi inilah yang berkaitan dengan FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain.
JOMO menawarkan sudut pandang yang berbeda. Daripada terus bertanya, “Apa yang sedang dilakukan orang lain?”, seseorang dapat mulai bertanya, “Apa yang sebenarnya ingin saya lakukan?”
Perubahan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat membantu seseorang lebih sadar dalam menentukan prioritas.
Apa Manfaat JOMO bagi Kehidupan Sehari-hari?
Menerapkan JOMO dapat memberikan sejumlah manfaat, terutama dalam mengatur perhatian dan waktu.
1. Mengurangi tekanan untuk selalu mengikuti tren
Tidak semua tren relevan dengan kebutuhan kita. Dengan JOMO, seseorang dapat memilih mana yang memang menarik dan mana yang boleh dilewatkan.
2. Membantu mengatur waktu
Mengikuti terlalu banyak kegiatan dapat membuat jadwal menjadi penuh. JOMO membantu kita memahami bahwa waktu istirahat juga memiliki nilai.
Daripada memenuhi setiap akhir pekan dengan agenda, misalnya, kita dapat menyisihkan waktu untuk tidur cukup, menikmati makanan favorit, atau sekadar bersantai tanpa agenda.
3. Membuat penggunaan media sosial lebih sadar
JOMO tidak mengharuskan seseorang menghapus seluruh media sosial. Yang lebih penting adalah menggunakan platform tersebut secara sadar.
Kita dapat memilih untuk tidak membuka media sosial setiap kali ada notifikasi atau tidak merasa harus mengunggah setiap aktivitas. Sama seperti kita tidak perlu membeli atau mengikuti sesuatu hanya karena sedang populer—bahkan ketika sedang mencari kebutuhan teknis seperti genset diesel sekalipun, keputusan tetap sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, bukan sekadar tren.
4. Memberikan ruang untuk diri sendiri
Terlalu banyak aktivitas dapat membuat seseorang lupa menyediakan waktu untuk dirinya sendiri. JOMO memberikan kesempatan untuk menikmati kesendirian tanpa menganggapnya sebagai sesuatu yang negatif.
Waktu sendiri dapat digunakan untuk beristirahat, melakukan hobi, berolahraga, membaca, atau sekadar menikmati suasana tanpa gangguan.
Bagaimana Cara Menerapkan JOMO?
JOMO sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Pertama, kenali aktivitas yang benar-benar memberikan nilai bagi kehidupan kita. Tidak semua undangan harus diterima dan tidak semua tren harus dicoba.
Kedua, batasi kebiasaan memeriksa media sosial secara berlebihan. Menonaktifkan sebagian notifikasi dapat menjadi langkah kecil untuk mengurangi dorongan membuka ponsel terus-menerus.
Ketiga, belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa bersalah. Menolak suatu kegiatan bukan berarti tidak menghargai orang lain. Terkadang, keputusan tersebut justru diperlukan agar kita dapat menjaga energi dan waktu.
Terakhir, nikmati pilihan yang sudah dibuat. Jika memutuskan tidak menghadiri suatu acara, tidak perlu terus memikirkan apa yang mungkin sedang terjadi di sana. Fokuslah pada aktivitas yang sedang dijalani.
JOMO Bukan Berarti Menjadi Antisosial
Salah satu kesalahpahaman tentang JOMO adalah anggapan bahwa konsep ini berarti menghindari interaksi sosial. Padahal, JOMO bukan tentang menolak semua ajakan atau hidup sepenuhnya sendiri.
JOMO lebih tepat dipahami sebagai kemampuan memilih keterlibatan secara sadar. Kita tetap dapat bertemu teman, menghadiri acara, mengikuti tren, dan aktif di media sosial ketika memang menginginkannya.
Perbedaannya terletak pada alasan di balik pilihan tersebut. Kita melakukannya karena memang ingin, bukan semata-mata karena takut tertinggal.
JOMO dan Kehidupan yang Lebih Seimbang
Pada akhirnya, JOMO mengajak kita untuk menyadari bahwa hidup bukan perlombaan untuk mengikuti sebanyak mungkin hal. Ada kalanya kita perlu hadir dalam sebuah momen, tetapi ada pula saat ketika melewatkannya justru membuat kita lebih tenang.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan terhubung, kemampuan untuk berhenti sejenak menjadi sesuatu yang berharga. JOMO bukan tentang kehilangan pengalaman, melainkan tentang memilih pengalaman yang benar-benar berarti.
Dengan menerapkan JOMO, kita dapat belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari menjadi bagian dari segala sesuatu. Terkadang, kebahagiaan justru muncul ketika kita merasa cukup dengan apa yang sedang kita jalani.