Aktris papan atas Korea Selatan, Son Ye Jin, mendadak menjadi pusat perbincangan publik setelah mengunggah video santai di akun media sosial pribadinya pada 30 September. Video singkat yang memperlihatkan dirinya tengah menikmati camilan stik keju tersebut secara tak terduga memicu perdebatan sengit terkait etiket dan tata krama saat makan.
Berikut adalah ulasan kronologi serta beragam reaksi publik yang muncul akibat unggahan video mukbang tersebut:
1. Aksi Santai Menikmati Stik Keju
Dalam unggahannya yang diberi keterangan "Akhirnya makan… enak sekali," Son Ye Jin tampil riang sambil menikmati untaian keju yang menjulur dari makanannya.
Gaya makannya yang santai dan tanpa canggung menghadirkan suasana ramah yang sangat berbeda dari citra elegan dalam peran-peran dramanya selama ini.
2. Reaksi Pro dan Kontra di Kalangan Netizen
Sebagian penggemar menyukai video tersebut dan menilai penampilan sang aktris yang dijuluki "Cinta Pertama Bangsa" ini terlihat imut, lucu, serta mudah didekati. Namun, sebagian netizen lain menyampaikan kritik terkait tata krama makannya. Suara mengecap saat makan yang terdengar dalam video dinilai berlebihan dan kurang menyenangkan untuk ditonton.
3. Meluas Menjadi Kritik Lintas Negara
Kontroversi makin memanas ketika video tersebut menarik perhatian netizen Jepang. Beberapa pengguna media sosial dari Jepang memanfaatkan momen tersebut untuk mengkritik kebiasaan makan masyarakat Korea secara umum, dengan menyebut adanya toleransi terhadap suara mengecap saat menyantap makanan.
4. Perdebatan Etiket Makan di Korea Selatan
Munculnya pandangan dari luar negeri memicu keresahan di kalangan netizen Korea Selatan. Sebagian mengkritik Son Ye Jin agar lebih memperhatikan etiket makan dengan mulut tertutup di depan kamera. Di sisi lain, banyak pula yang membela sang aktris dengan menyatakan bahwa suara makan tersebut kemungkinan besar hanya terdengar diperkuat oleh mikrofon video dan tidak seharusnya ditanggapi secara berlebihan.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana unggahan sederhana dari seorang figur publik tingkat dunia dapat dengan cepat berkembang menjadi diskusi hangat mengenai etiket dan persepsi budaya di ruang digital.